Curhatan Bunda

Jumat, 06 September 2019

Virtual Coordinator Training, Guru Penjaga Tol Langit Pendidikan



Awalnya aku hanya sekedar melihat, tak berhasrat untuk mengetahuinya. Sebagai alumni pascasarjana tentu tuntutan untuk mengembangkan diri itu ada. Tuntutan guru mulia karena karya itu ada.  Berhubung saya masih mempunyai bayi yang sekarang berusia delapan bulan, membuat saya membatasi diri ‘jadi ibu yang baik dan benar sajalah dulu’ pikirku. Bahkan kemarin saya tidak bisa berangakt ke ibukota provinsi untuk mengikuti Olimpiade Guru Bahasa Indonesia batal meski saya sudah lolos administrasi dan artikel ilmiah sebagai prasyarat mengikuti OGN tersebut.
Teman saya, Siti Zakia, yang juga instruktur di VCT 45 BATCH 3, selalu men-share kegaitan Seameo di grup alumni pascasarjana. Mulai dia akan presentase di Sarasehan Dalam Jaringan (SADAR), lomba hibah penelitian Seameo bahkan Camp Soar Seameo di Bali 2018 silam. Aku pun tak ingat apakah aku pernah mendaftar kegiatan VCT ini. Tiba-tiba saya sudah masuk dalam sebuah grup VCT 45 wilayah Sumatera Bacth 3. Karena belajarnya hanya sejangkauan jari, atinya hanya lewat hape, saya pikir tidak salah saya ikuti. Toh, saya masih bisa tetap menggendong bayi saya sambil mengikuti vicon mereka.
            Akhirnya pikiran saya terbuka ketika mengikuti diskusi virtual tantangan industri 4.0 dan cara menyikapinya yang langsung dibawakan oleh Dr. Gatot Hari Priowirjanto pada tangal 5 Maret 2019 lalu dalam rangka pidato pembukaan kegiatan VCT se-Indonesia.
Beberapa hal yang beliau sampaikan adalah:
1. 1.   Seameo (The Southeast Asian Ministers of Education Organization) adalah organisasi antar pemerintah regional yang didirikan pada tahun 1965 di antara pemerintah negara-negara Asia Tenggara untuk mempromosikan kerja sama regional dalam pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya di wilayah tersebut. Pembuat kebijakan tertinggi pada organisasi ini adalah SEAMEO Council, yang merupakan menteri pendidikan dari 11 negara Asia Tenggara: Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Sekretariat SEAMEO terletak di Bangkok, Thailand.
2. 2.    Seamolec (SEAMEO Regional Open Learning Centre) adalah salah satu dari 24 pusat yang berada di bawah naungan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) dan memiliki fokus bidang Pendidikan Terbuka Jarak Jauh (PTJJ). Dengan berbagai program yang menjadi tugas intinya, seperti; pelatihan, konsultasi, riset dan pengembangan, dan penyebaran informasi, SEAMOLEC membantu negara-negara anggota SEAMEO untuk menemukan solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas manusia melalui PTJJ. Tugas utama SEAMOLEC adalah membantu berbagai institusi dan negara, terutama di Asia Tenggara, dalam mengembangkan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah-masalah pendidikan dan menemukan solusi alternatif melalui pemanfaatan PJJ terutama yang berbasis TIK. Itulah sebabnya dalam setiap flyer yang ditampilkan ketiga logo lembaga ini ditampilkan berurutan dan proporsional. Dimulai dari logi Seameo, Seamolec dan logo Tut Wuri Handayani Kemendikbud.
3.    Virtual Coordinator Training  (VCT) adalah pelatihan yang diselenggarakan oleh SEAMOLEC untuk mempersiapkan guru dalam pembelajaran jarak jauh yang berbasis Webex. Dengan mengikuti pelatihan ini, Guru akan dibimbing agar siap melaksanakan pembelajaran jarak jauh, baik sebagai host, moderator, maupun pemateri (presenter). VCT ini merupakan bagian dari persiapan Indonesia menghadapi era Industri 4.0, dimana salah satunya adalah kolaborasi/kerjasama antar negara, antar provinsi, antar MGMP, antar sekolah, untuk meningkatkan pengetahuan, skill,pertukaran ilmu pengetahuan, maupun BEST PRACTICE antar sekolah, di tingkat Kota/Kabupaten, Provinsi, maupun Negara.
4.    Video Conference (vicon)  membuka batasan waktu, tempat dan dana untuk guru terus belajar. Ke depannya kegiatan Kemendikbud baik seminar, diklat ataupun PPG akan berbentuk vicon untuk menghemat dana.
5.    Ada bantuan PSMK untuk sekolah SMK yang mengharuskan sekolah penerimanya harus memiliki minimal satu alumni VCT.
6.    Kegiatan VCT mengharuskan peserta melakukan tugas 2x sebagai host, 2x sebagai moderator dan 2x sebagai presenter. Seorang host bertugas membuka acara, memperkenalkan presenter dan moderator, menyerahkan kegiatan pada moderator, mengatur tampilan shooting camera dan microfon peserta saat vicon dan membantu moderator selama acara berlangsung demi kelancaran vicon. Tugas moderator antara lain memperkenalkan presenter,  memberi kesempatan pada presenter untuk menyampaikan materi, dan merekap pertanyaan peserta dari kolom chatting. Sementara tugas presenter adalah memaparkan materi dengan singkat padat dan berisi, menjawab pertanyaan peserta vicon,  mengakhiri kegiatan dengan menyampaikan kesimpulan rangkuman pernyataan sebelum mengakhiri materi.
7.    Peserta akan mendapatkan sertifikat untuk satu tahun dan dapat diperbaharui bila masih aktif dalam kegaiatan VCT
Lalu apa yang terasa meng-exciting saya adalah sensasi belajar hal-hal baru terlebih karena saya memang menyukai hal yang berbau internet dan teknologi. Sudah belajarnya bisa lewat hape jadi tidak perlu pergi ke luar kota meninggalkan anak di rumah. Selanjutnya saya bisa sambil belajar dan mengasuh bayi saya. Hal-hal baru tersebut antara lain :
1.    Belajar menjadi seorang virtual coordinator.
Seorang virtual coordinator harus memiliki kecakapan mengelola pelatihan atau pembelajaran berbasis dunia maya menggunakan platform video conference. Dimulai dengan merancang kegiatan dari awal hingga publikasi ke sosial media.

Kegiatan persiapan meliputi :
a.    Membuat flyer atau poster digital untuk mengajak dunia luar bergabung. Tool yang dapat digunakan seperti Photoshop Coreldraw, Powerpoint atau yang berbasis on line seperti postermywall.com.
b.    Menulis narasi kegiatan untuk mendukung flyer yang telah dibuat. Virtual Coordinator harus mempunyai kecakapan menulis narasi berisi pengetahuan awal tentang hal yang akan disampaikan, jadwal kegiatan serta informasi link  video conference, room number dan password.
c.    Melakukan rekrutmen peserta secara on line jika kegiatannya terbatas pada kalangan tertentu melalui diantaranya Google form.

Kegiatan vicon antara lain :
a.    Melakukan kegiatan video conference.  Tool yang dipakai adalah Webex karena memiliki kekuatan gambar dan video yang stabil, membuat room pertemuan secara mandiri baik dari hape maupun dari laptop, tambahan lagi website memiliki fitur-fitur yang sederhana dan mudah dipelajari dibanding vicon yang lain seperti Edmodo, Google Hangouts atau Skype for business. Webex ini sudah sangat familiar bagi teman saya para anggota Oriflame atau NU Skin karena mereka sering ditraining lewat Webex. Hai ini sangat menggelorakan saya karena Webex dapat dipakai dalam pembelajaran.

Webex dapat didownload di playstore bila melalui hape atau membuka websitenya bila dari laptop. Seorang VC juga harus mengenal dan dapat atau presenter.
Hal yang sangat berkesan adalah saat saya menjadi presenter ternyata suara tangis bayiku dan suara suami yang menenangkannya terdengar oleh peserta lain dan ikut mewarnai rekaman vicon saya juga. Sepintas membuat saya tengsin tetapi justru saya mampu mengalahkan berbagai rintangan untuk menyelesaikan tugas-tugas di VCT ini. Di pertengahan jalan saya sudah ingin keluar karena jadwal saya presentasi dua kali diundur karena anak saya sakit. Bersyukur saya dapat menyelesaikan apa yang sudah saya mulaii.
b.    Membuat ppt minimal sepuluh slide untuk disajikan sebagai presenter dan mampu men-sharenya saat vicon berlangsung.
c.    Membuat presensi kegiatan on line sebagai dokumentasi peserta yang mengikuti kegiatan presentasi ini dapat dilakukan di Google form atau Zoho serta mampu men-share presensi ini untuk semua peserta. Kemudian mampu me-recordnya di Google Spreadsheet dan mengubahnya ke bentuk pdf supaya tidak dapat diisi atau diedit orang lain lagi.
d.    Memperpendek link yang panjang. Absensi online yang kita buat tadi di Google Form itu mempunyai link yang panjang dan seharusnya diperpendek agar pemirsa dapat mengetik ulang link yang sudah dibagikan. Nama link juga dapat diganti dengan nama khusus supaya cepat dibaca dan dibedakan. Misalnya untuk absen sesi pertama dapat diberi nama absensesi1 dan seterusnya, hindari juga menggunakan huruf kapital atau huruf kecil. Memperpendek link ini sangat menjawab kebutuhan saya selama ini. Misalnya selama ini saya bila mengikuti lomba blog yang mengharuskan peserta men-share link ke media sosial dan sering terkagum bila ada peserta yang men-share linknya dengan nama yang unik dan singkat.
e.    Mendokumentasikan kegiatan dengan  merekam layar melalui DU Recorder atau V Recorder di HP sementara untuk laptop bisa menggunakan Camtasia atau Fastone.

Kegiatan akhir berupa :
a.    Mengupload video kegiatan VCT ke youtube sebagai dokumen dan juga dapat menjadi bahan referensi bagi orang lain.
b.    Membuat laporan presensi menjadi host, moderator dan presenter dengan menyatukan absen dan flyer berdasarkan tanggalnya ke kantong tugas. Di sini juga seorang VC belajar mencompress atau meresize file atau foto keukuran yang lebih kecil.
c.    Mampu mencari dan mengunduh sendiri sertifikat on line VCT dari ribuan sertifikat peserta.
2.    Mampu bekerja sama, berkolaborasi dan bersinergi dengan guru-guru hebat
Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Ibu Winarti, guru kimia di SMK Tanjung Balai atau Ibu Tiomas, guru bahasa Indonesia SMP di Langkat. Semua dipersatukan dalam sebuah grup VCT. Seluruh peserta VCT 45 batch 3 berjumlah 200-an bergabung dalam sebuat grup whatsapp sehingga kita harus aktif dan selektif membaca informasi. Terkadang kita harus ‘memanjat’ atau scrool jauh ke atas bila sehari saja tak membuka obrolan grup. Bersyukur saya mendapat ilmu baru untuk memberi tanda bintang untuk setiap pesan penting dan segera menghapus ratusan chat setiap harinya. Selain kita lebih cepat mendapatkan informasi, hape juga jadi lebih terasa ‘lebih ringan’.
Selanjutnya setiap peserta yang akan bertugas esok harinya akan dimasukkan ke dalam grup kecil untuk lebih memudahkan kordinasi pembagian tugas. Siapa yang menjadi host, presenter dan moderator setiap sesinya dan mempersiapkan atau mencek keperluan yang dibutuhkan seperti flyer atau absensi.
3.    Semangat VCT ini sebenarnya ingin saya tuang di blog, tetapi berhubung saya masih ‘kudis’ kurang disiplin belum saya posting juga. Padahal banyak ilmu baru yang saya dapat untuk mengembangkan ilmu blogging saya. Misalnya ternyata ada gerakan Sagusablog atau Satu Guru Satu Blog yang merupakan salah satu kanal Ikatan Guru Indonesia.
Akhirnya, semua kesan mengikuti VCT ini saya tuangkan di antologi 3 ini sebagai bagian mengawetkan pikiran, meninggalkan jejak ilmu, menambah koleksi literasi Indonesia. Terima kasih kepada Seameo yang telah memfasilitasi alumni untuk menerbitkan buku digital ber-ISBN dalam bentuk antologi.
sertifikat vct


Kamis, 24 Januari 2019

Lima Cara Baru Menjalani Tahun Baru



Setiap kita pasti suka sesuatu yang baru. Makanan baru, baju baru, sepatu baru, kenderaan baru, rumah baru, karir baru, status baru bahkan juga tahun baru. Tahun baru seharusnya semangat baru. Sayangnya, kita merasa tahun baru sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya. Tanpa tujuan sehingga tak ada yang ingin diraih. Tanpa rencana sehingga tak ada yang dicapai.

Padahal tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap hari. Berkatnya selalu baru tiap tahun. Hal ini seharusnya membuat kita semakin antusias menikmati berkat tahun baruNya.

Berikut lima cara baru menjalani tahun baru

1. Bersyukur

Bersyukur adalah salah satu bentuk berterima kasih kita kepada Allah. Bersyukur atas kekuatan menjalani tahun lalu. Bersyukur atas semua yang kita alami sepanjang tahun. Baik keberhasilan maupun kegagalan. Kemajuan maupun stagnansi.

Bersyukur Allah tetap mengantarkan kita untuk tetap bergerak maju di 2019, sebab masa depan sungguh ada dan harapan tidak akan hilang.

2. Buat Resolusi

Tulislah apa yang menjadi harapan kita di 2019 ini. Bila perlu tempelkan di dinding supaya terus kita ingat.

Kalau Agnes Mo bilang “Suarakan mimpimu dengan lantang supaya dunia dapat mendengarnya”. Jadi, jangan takut bermimpi.

Menurut orang-orang smart, resolusi itu harus ditulis secara SMART  ( Specific, Measurable, Achievable, Realistic and Timely). Maksudnya mimpi itu harus spesifik, dapat terukur, dapat tercapai, realistis dan punya batas waktu.

Jangan sekedar bilang “ingin menjadi pribadi yang lebih baik” atau “ingin lebih sehat lagi”. Yang ini abstrak banget. Tulislah lebih spesifik usaha yang dapat kita lakukan untuk menjadi lebih sehat. Misalnya, akan berenang dua kali seminggu.

3.  Doakan

Yap, jangan lupakan Tuhan dalam perencanaan. Biarlah Tuhan yang menaruh mimpi itu di hati dan diberinya kita kekuatan melakukannya. Biar Tuhan juga yang menjaga hati kita saat man can purpose but God dispose.

4. Sharing

Membagikan harapan-harapan dengan orang lain terutama dengan teman dekat dapat mendorong kita untuk semangat dan bertekad mewujudkannya. Sahabat yang baik akan mendoakannya juga bahkan akan mengingatkan kita apakah resolusi tersebut sudah kita lakukan.

5.  Lakukan

Bersyukur sudah, membuat resolusi mantap, didoakan sungguh, disharingkan apalagi. Jadi, jangan lupa tinggal dilaksakan, dilakukan, dieksekusi.

Nah, teman apakah sudah ada yang tercapai resolusinya di bulan pertama Januari ini? Kalau saya sudah, he..he..😉 satu tulisan ini dari lima tulisan yang saya harapkan tiap bulannya. Tulisan ini saya ikut sertakan dalam lomba blog yang diadakan oleh DUMET School.

Lomba blog ini diadakan setiap bulan, mulai tanggal 1 sampai tanggal 25. Kesempatan menang cukup besar karena selalu ada 10 juara setiap bulannya. Juara 1 berhadiah Rp 1.000.000,  juara kedua Rp 750.000, juara ketiga Rp 250.000, dan juara 4-10 masing-masing pulsa senilai Rp 50.000.

Lomba blog ini bukan lomba SEO atau pencarian teratas Google, sehingga tepat bagi blogger pemula seperti saya ini. Yang penting judul menarik, karya sendiri, kreatif, minimal 300 kata, lengkapi gambar dan video pendukung, beri back link ke Dumet School, share di Face Book peserta dan mencantumkan banner lomba di side bar blog.

DUMET School adalah lembaga kursus TIK di Jakarta yang handal dalam program seperti gambar di bawah ini  
DUMET School menjadi digemari karena jadwal kursus yang fleksibel artinya kita bebas meilih kapan waktu belajar yang sesuai dengan kita, belajar semi private artinya satu orang pun siswanya akan tetap belajar, belajar sampai tuntas dan tidak dibatasi oleh jangka waktu, gratis seumur hidup artinya akan tetap dilayani meskipun kita sudah selesai kursus di sana. Selain itu juga Dumet School menyediakan belajar on line melalui ketersediaan artikel yang selalu di up grade di situsnya.

Berikut adalah testimoni siswa yang pernah belajar di DUMET School




Jadi, tertarik untuk belajar di Dumet School ? Tertarik untuk memasukkan Dumet School sebagai resolusi di 2019?  

Senin, 17 Desember 2018

Five Little Happines of Nursing Mom


Ibu menyusui pasti bahagia bila baby sehat, tidak rewel, ngASI lancar, berat badan  bayi selalu naik dan pertumbuhannya normal. Ibu pun berjibaku setiap detiknya demi semua itu.

Mulai dari baby bangun, disusui, muntah, ganti baju, pipis, ganti celana, nyusui lagi, digendong, dininabobokan, tidur, letakkan, eh sudah bangun lagi. Begitulah setiap hari di bulan-bulan pertamanya sampai terkadang ibu lupa bahagia, lupa menikmati kebahagiaan itu sendiri.

Padahal kebahagiaan ibu menyusui itu sebenarnya ada dalam hal-hal kecil ini

1. Bisa Tidur


Yup, bisa tidur saat baby tidur adalah kebahagiaan tersendiri. Soalnya baby tiga bulan itu seperti matahari terbalik, siang tidur, malam melek. Alahasil, mama akan begadang, kurang tidur. Gawatnya lagi bagi working mom, gak kebayang ngantuk beratnya di kantor.

Susahnya lagi saat baby tidur, terkadang ibu gak sempat berpikir untuk tidur karena rentetan pekerjaan rumah sudah mengantri.  Begitu bayi terlelap, maka ibu sudah terhipuh-hipuh matanya kepada gorengan ikan, tangannya mengupas bawang dan kepalanya kepada uang sekolah si kakak sudah dibayar apa belum.

Baiknya untuk pekerjaan rumah sebelum lahiran dibicarakan. Bila ada dana, silahkan panggil ART. Bila ada keluarga dekat, jangan sungkan minta tolong. Bila masih kuat, ya silahkan kerjakan sendiri. Bila sudah tidak kuat, biarkan sajalah pekerjaan rumah itu yang penting Ibu dan bayi harus sehat.

Kalau saya, saat bayi masih bermain pun dan saya lelah, saya akan minta suami menggendongnya. Bisa tidur sepuluh menit saja pun rasanya sudah bahagia dan bisa fresh kembali.

2. Bisa Main Hape


Aduh yang ini belum bisa tidak deh. Tiap detik terkungkung dalam keterbatasan badan yang masih lemah pasca melahirkan terlebih lagi bagi yang sesar sering membuat kita seperti terisolasi. Bermain hape dapat membuka terali keterkungkungan tadi. Bermain hape bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar sana.

Apalagi nih saya ya, menulis itu adalah me time. Saya bisa curcol lewat tulisan, termasuk tulisan saya yang ini nih. Karena keterbatasan waktu, saya ngetik ini semua di hape loh.


Tapi ingat ya, jangan main hape saat mengASIhi. Kalau saya biasanya main hape saat bayi tidur atau curi-curi waktu saat sedang menggendongnya.

3. Bisa 'Jongkok'

Paling jengkel itu ya, kalau lagi jongkok di kamar mandi terus tangis bayi  berderai-derai di sebelah. Buyaaar deh kontemplasi 😀.

Paling enak itu saat bayi tidur atau ada seseorang di rumah untuk dimintain tolong menggendongnya maka kita bisa tarik nafas pelan-pelan....., dorong pelan-pelan.....leeeegaaa 😀


4. Bisa Ngobrol


Aduh butuh telinga seseorang untuk ngobrol apalagi saat sindrom baby blues menyergap.

Perasaan bersalah, perasaan tidak layak, perasaan tidak sanggup membuat ibu bersedih bahkan sampai terisak-isak. Duh, pundak mana, pundak mana 😢.

Carilah teman ngobrol misalnya di grup ibu menyusui atau teleponlah teman terdekat bahkan meminta waktu suami sebentar saja sebelum malam semakin larut.


5. Bisa Melihat Bayi Tersenyum


Kalau yang ini sih, bukan small happiness lagi tapi kebahagiaan terbesar seorang ibu.


Jadi, yuk sering tersenyum bunda biar bayi kita tersenyum. Bayi tersenyum, kan kita bahagia.

Dan ternyata bahagia itu datang dari hal-hal terkecil. So, jangan lupa tersenyum 😀, jangan lupa bahagia 😉.

Jumat, 14 Desember 2018

Teleponlah Ayahmu Sekarang


Tak banyak yang bisa kukenang darinya tapi sepanjang aku bisa mengingat kebersamaan kami, betapa aku tahu ia sangat menyayangiku

Selasa, 11 Desember 2018

Five Reason Why You Should Be Love Cooking


Yang namanya emak-emak pasti wajib mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ya namanya juga ibu rumah tangga kan. Ada yang terpaksa, ada yang wajib, ada yang suka bahkan sampai ada yang sangat mahir.

Ternyata latar belakang kebiasaan keluarga juga mempengaruhi loh bagaimana sikap kita terhadap berbagai pekerjaan rumah tersebut. Misalnya saja saya, karena saya anak pertama, anak paling besar sehingga sering disuruh menjaga adik-adik. Selain itu ada juga faktor gender, contohnya saya perempuan sendiri, jadi sering kebagian memberesi dalam rumah, sementara membersihkan halaman tugas adik yang laki-laki. Faktor kemudahan atau fasilitas juga ada, seperti bila kami ke ladang, saya tidak kuat mencangkul. Jadilah adik laki-laki yang mencangkul dan saya disuruh pulang untuk memasak.

Dari sekian banyak pekerjaan rumah tangga, memasak adalah pekerjaan yang harus ibu lakukan. Terlepas dari latarbelakang keluarga kita masing-masing dan terlepas kita suka atau tidak suka, mahir ataupun amatiran.

Berikut adalah alasan mengapa moms wajib bisa memasak,

1. Menjaga Kesehatan Keluarga


Pastilah seorang ibu menjaga kebersihan bahan makanan, kebersihan pengolahannya hingga kebersihan penyajiannya. Selain itu, moms juga akan memilih kualitas bahan yang terbaik. Mulai membeli bahan makanan, sebab beda kualitas ikan senangin yang empat puluh ribu sekilo dan yang tiga puluh ribu sekilo. Moms juga akan menjamin pengolahan  makanan bebas pewarna dan pengawet bahkan penyajiannya pun moms akan pastikan fresh from the oven.

2. Menjaga Keuangan Keluarga


Memasak sendiri pasti lebih hemat. Beli tahu lima ribu rupiah bisa untuk sekali makan buat keluarga. Selain itu, memasak sehat membuat keluarga sehat sehingga keuangan keluarga pun akan terjaga. Lalu bila ada yang sakit juga, moms juga pasti berusaha memberi obat lewat masakan. Misalnya saja, bila anak-anak flu biasanya saya akan masak sup ayam atau bubur ayam jagung. Bila anak batuk maka saya hindari dulu ikan gorengan dan lebih cenderung memasak sup-supan.

3. Menjaga Kesabaran Keluarga


Memasak menuntut kesabaran ibu. Sang ayah mau udang digulai, Si ibu mau udang goreng sambal sementara si anak mau udang goreng tepung. Ibu harus sabar dengan semua pilihan itu. Apakah ibu harus sabar mengolah tiga jenis udang itu dalam sekali masak atau anggota keluarga yang harus sabar menunggu jenis masakannya digilir dulu.

4. Menjaga Kreativitas Keluarga


Moms pasti terus belajar memasak dari respon semua keluarga. Bila makannya lahap, berarti moms akan mempertahankan resep andalannya. Bila kurang lahap, maka moms akan memperbaikinya lagi. Bukan hanya soal rasa, dari segi bentuk juga. Walau tidak semahir chef profesional menyajikan menu, moms bisa juga belajar sedikit-dikit membentuk bunga dari wortel.

Mengkreasi wortel berbentuk bunga


Moms juga akan berkreativitas menghemat uang belanja di saat paceklik ekonomi keluarga. Misalnya yang tadinya ikan beli sekilo, jadi beli delapan delapan ons saja dan menggantinya dengan tahu atau tempe. Ikan tetap ada dan keluarga tetap kenyang didorong tahu tadi.

5. Menjaga Keharmonisan Keluarga


'Masakan mama', itulah yang paling ngangeni saat anak merindukan rumah. Bukan karena mama jago masak tapi karena mama memasaknya dengan sepenuh cinta.



Cinta akan kesehatan keluarga, cinta akan keuangan keluarga, cinta akan kesabaran dan kreativitas bahkan cinta akan keharmonisan keluarga adalah bumbu-bumbu yang diolah dengan mahir oleh tangan cekatan bunda di dapur sehingga lahirlah resep andalan bunda yang akan dikenang oleh anak-anak sebagai resep andalan 'Masakan Mama'.

Jumat, 07 Desember 2018

FIVE THINGS TO LOVE IN 2019


Perencanaan adalah prinsip pertama dalam ilmu manajemen. Setiap perusahaan, instansi, organisasi dan yang lainnya pasti melakukan evaluasi  di akhir tahun untuk dipakai dalam perencanaan di awal tahun berikutnya. Perencanaan yang baik telah menyelesaikan setengah dari tujuan. So, let your dream come be true.

Secara pribadi saya pun demikian, setiap akhir tahun saya menuliskan apa yang disyukuri dan apa yang akan diperbaiki tahun berikutnya. Kemudian saya (kami sejak menikah) akan mendoakannya di malam pergantian tahun. Ingat, man propose but God dispose.

Menuliskan resolusi 2019, saya membuka kembali resolusi 2017 di sini dan 2018 di sini. Sejak belajar menjadi penulis, ternyata kita must be brave to publish your life, karena itu bagian dari branding.

Resolusi 2017 banyak tertunda khususnya penyelesaian studi karena kami sakit. Bersyukur kami bisa wisuda bersama di bulan yang sama  tahun 2018 meski kami  mulai kuliah di tahun yang berbeda dan kampus yang berbeda. 

Berkaca di 2018, maka kesehatan pun masih tetap prioritas di 2019 bahkan di tahun-tahun yang selanjutnya.

Berikut adalah harapanku di 2019, 


1. Jaga Kesehatan


Terlalu abstrak, harus ada yang dilakukan minimal satu untuk menjaga kesehatan. 

Kalau suami sih sudah bisa konsisten renang sekali seminggu. Kalau saya, menjaga jangan terlalu letih. Khususnya dalam pekerjaan rumah, maka kami sepakat memakai jasa pembantu rumah tangga untuk mencuci, menyetrika dan membereskan rumah. 

Sebab letih mengajar di sekolah, letih membereskan rumah, letih mengurus anak-anak dapat membuat letih jiwa. Kita akan mudah marah sehingga kesehatan mental anak-anak akan terganggu.

2. Tuntaskan ASI Ekslusif dan MPASI


Yup, memberi ASI ekslusif itu butuh perjuangan banget loh. Masih ada tiga bulan yang panjang lagi di 2019. 

Terlebih ketika sudah masuk kerja dengan jadwal yang padat. Maka harus konsisten makan bergizi (lebih banyak sayur dan buah). Harus konsisten juga dengan jadwal memerah. Kendor sedikit saja, maka volume ASI bisa berkurang. Begitu seterusnya, bahkan sampai bayi saya nanti MPASI.

3. Memberikan Les Gratis


Memberikan les gratis bahasa Indonesia kepada siswa kelas XII, khususnya anak wali saya sebagai persiapan UNBK.

Les gratis ini adalah ungkapan hati saya yang tercabik-cabik melihat minat belajar anak SMK. Terkadang saya iri lihat anak SMA di kotaku. Pagi belajar, sore les di sekolah, malam masih bimbel (dengan harga jutaan bahkan puluhan juta) lagi sebagai persiapan mereka UNBK.

Les gratis ini juga sebagai jawaban apa yang bisa saya berikan kepada anak-anak untuk membantu mereka ujian. Bantuan diberikan sebelum ujian bukan saat ujian.

Saya juga harus siap patah hati, karena melihat minat belajar anak-anakku, bisa saja saya ditolak alias mereka tidak mau datang. Seperti pepatah orang Batak “haccit mulak mangido, humanciit mulak mangalean’, sakit ditolak meminta, lebih sakit ditolak memberi.

Ya, tiga sajalah dulu dan itu pun sudah cukup besar. Eh, harus lima ya sesuai permintaan BP. Baiklah saya tambahkan lagi.

4. Ikut Seleksi Tim Penulis Soal UNBK


Yup, setelah menerbitkan materi Ujian Nasional selanjutnya saya ingin mengikuti seleksi tim penulis soal UNBK. Syukurnya, seleksi dan proses penulisannya on line . Jadi, saya tidak perlu meninggalkan bayi saya nantinya.

5. Tetap Saja Menulis


Tetap saja menulis. Itu sajalah dulu. Belum berani menargetkan ulang untuk menerbitkan buku dan juga punya tabungan dari menulis karena tiga pekerjaan besar yang sudah saya sebutkan di atas. Tetap saja menulis dan tulisan ini adalah praktiknya.

Kalau kamu, apa harapanmu di 2019 ?

Senin, 03 Desember 2018

Blogger Yang Menjadi Mentor Bagi Saya



Blogger adalah pekerjaan yang cukup dilirik belakangan ini. Banyak yang meninggalkan pekerjaannya menjadi full time blogger. Selain waktu yang tidak terikat  (disukai oleh perempuan yang sedang mempunyai balita), tempatnya pun bisa bebas di mana saja dan tentu saja dapat menjadi sumber penghasilan.

Baca juga : Lima Alasan Mengapa Guru Harus Ngeblog


Akhirnya persaingan semakin meningkat. Blogger harus terus belajar. Saya beruntung mengenal blogger berikut yang sekaligus mentor bagi saya.


1. Thurneysen Simanjuntak



Jauh sebelum bertemu abang ini di dunia blogging, saya sudah mengenalnya secara pribadi di kampus. Saya dan abang ini bergabung dalam organisasi kerohanian dan saat itu dia menjadi ketuanya. Saat kegiatan aksi dana papan bunga wisuda, abang itu mengajakku berkeliling menjajakan teh botol, abang ini sempat bercerita tentang sejarah awal teh botol yaitu seven up. Bagaimana perjuangannya ditertawakan menjual teh dalam botol. Sambil berjualan ia menanamkan semangat pantang menyerah. Sungguh kepemimpinannya menyatu dalam dirinya.

Ketika bertemu lagi di permukaan media sosial khususnya dunia writing, abang ini meneleponku selama dua jam ( waktu itu aku di kereta api pulang ke Rantauprapat) khusus menyemangatiku untuk tetap menulis. Darinya aku belajar bahwa harus menulis tiap hari, kadang dia mengetik di android ketika mengantarkan anak les. Langsung tulis dan publish. Editing kadang setelah publish. Satu artikel bisa selesai dua tiga jam sampai publish, lha aku satu artikel bisa dua tiga hari.

Tidak hanya padaku, pada adik-adik yang lain pun akan tetap dimentorinya supaya eksis lewat tulisan. Bahkan di sekolah tempatnya mengajar, dia menjadi pembina ekskul menulis dan berhasil mencetak siswanya menjadi penulis.

Saat ini abang ini giat menulis di Kompasiana, blog pribadinya dan juga berbagai lomba menulis. Katanya dari menulis saja, abang ini tidak pernah ganti hape lima tahun terakhir dari kocek pribadinya.

Konsistensinya dalam menulis membuat dia kerap diundang menjadi pembicara dalam seminar kepenulisan. Saya yakin kelak dia akan go nasional dan go internasional.

2. Ira Guslina



Saat blogwalking, aku mengetahui Mbak ini sedang mengadakan giveaway bertema ASI. Langsung saja saya ikut serta dan beruntung sebuah mi-fi nyangkut saat itu.

Seterusnya saya pasti membaca blog Mbak ini setiap bulannya, karena awal bulan pasti ada rangkuman berbagai info lomba blog. Lomba blog dapat dijadikan inspirasi untuk menulis dan dead line-nya memaksa kita untuk disiplin menulis.

Selanjutnya kami memang sering berkomunikasi. Lewat WA banyak juga saya dimentori. Satu sarannya untuk saya segera hijrah ke blog berbayar supaya pintu rejeki banyak terbuka belum terealisasi.

Satu hal yang saya pelajari adalah semangat menulisnya. Ketika anak ketiganya baru lahir saja, Mbak ini masih tetap posting tulisan. Bahkan saat ini Mbak ini sedang melanjutkan studi S2 pun masih tetap setia mengisi blog Dunia Biza-nya.

3. Ani Berta


Salut kepada eda yang satu ini, berani meninggalkan pekerjaannya demi menjadi full time blogger.

Eda berdarah Batak-Sunda ini sering menjadi pembicara di talk show blogging dan menjadi pendiri berbagai komunitas blogger seperti ISB (Indonesian Sosial Blogpreneur). Wajar saja memang karena eda ini blogger serba bisa. Beragam niche bisa ditulisnya mulai dari kuliner, life stly, teknologi, blogging dll.

Loh, kok cuma tiga saja? Yup, saya ini orangnya pendiam, kurang berani untuk memulai berbicara. Dalam blogwalking pun demikian, singgah membaca tetapi tidak meninggalkan jejak.

Saya tahu (tapi tidak kenal secara pribadi) beberapa blogger yang lainnya. Seperti Mbak Ya Yat, blogger perempuan yang doyan sport. Mbak Nur Alfi yang mulai kece dengan tampilan fotografinya. Mbak Alaika, admin BP yang bahasa Inggrisnya cas cis cus. Mbak Muyassaroh di Eistrilook Community dengan list article-nya.

Kita memang harus banyak berteman dengan sesama blogger. Keuntungan selain banyak belajar, kita juga akan segera mendapat pembaca setiap kali posting tulisan dan syukur-syukur bisa juga menjadi buzzer.

Kalau Kamu, siapa blogger kesukaan Kamu?